Menu

TENTANG KAMI

GAMBARAN UMUM KELURAHAN PEGUYANGAN

Secara historis Denpasar pada mulanya merupakan pusat Kerajaan Badung yang kemudian ditetapkan menjadi Pusat Pemerintahan Kabupaten Tingkat II Badung dan selanjutnya mulai Tahun 1958 Denpasar menjadi sebagai pusat Pemerintahan Tingkat I Bali. Pesatnya perkembangan yang terjadi di Kota Denpasar menyebabkan pemerintah Kabupaten Tingakat II Badung mengganggap perlu mengusulkan Kota Denpasar menjadi Administratif dengan keluarnya peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1978 maka Denpasar dijadikan Kota Administratif, dengan jumlah penduduk pada saat terbentuk 206,59 jiwa dan tingkat pertumbuhan pada waktu itu 3,5% Per Tahun. Dengan melihat pesatnya perkembangan Kota administratif Denpasar di berbagia sektor kehidupan masyarakat maka tidak mungkin hanya ditangani Pemerintahan berstatus Kota Administratif, oleh karena itu dibentuk Pemerintahan Kota Madya yang mempunyai kewenangan otonom untuk mengatur dan mengurus wilayah perkotaan sehingga berhasilguna. Untuk mewujudkan Denpasar menjadi Daerah otonom maka status administratif  Denpasar Menjadi Kota Madya Daerah Tingkat II dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali Nomor: 43 Tahun 1983, tertangal 31 Maret 1983 akhirnya pada tanggal 15 Januari 1992 berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1992 Tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Denpasar di sahkan, serta Kotamadya Daerah Tingkat II diresmikan oleh menteri Dalam negeri pada tanggal 27 Pebruari 1992 sehingga merupakan babak baru bagi penyelenggaraan pemerintah Daerah Tingakat II dan Kota Madya Daerah Tingkat II Denpasar. Dengan terbitnya undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian diganti dengan undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah penyebutan Kota Madya Daerah Tingkat II menjadi Kota Denpasar.

Peguyangan merupakan wilayah yang terdapat di wilayah Kecamatan Denpasar Utara. Terkait dengan nama “PEGUYANGAN” tersebut ada beberapa informasi yang menurut cerita tokoh-tokoh masyarakat serta didukung oleh bukti-bukti peninggalan yang diketemukan dan berdasarkan beberapa sumber yang dijadikan pedoman. Membicarakan tentang sejarah Peguyangan yang dahulunya menjadi induk dari Kelurahan Peguyangan, hal lain yang tidak akan lepas dari daerah Peguyangan secara keseluruhan, karena Kelurahan Peguyangan adalah merupakan bagian pemekaran dari Desa Peguyangan yang di pecah menjadi 3 (Tiga ) wilayah yaitu :

  1. Kelurahan Peguyangan
  2. Desa Peguyangan Kaja
  3. Desa Peguyangan Kangin

dari pemekaran diatas terdapat 6 (enam) Desa Adat yang terdapat didalamnya, antara lain:

  1. Desa Adat Peguyangan mewilayahi Kelurahan Peguyangan dan Desa Peguyangan Kaja
  2. Serta pada Desa Peguyangan Kangin terdapat 5 Desa Adat (Desa Adat Peraupan, Desa Adat Kedua, Desa Adat Jenah, Desa Adat Cengkilung, Desa Adat Peninjoan)

 

SEJARAH

Sejarah dapat dikemukakan berdasarkan data baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang didapat melalui cerita/babad dan informasi dari para tetua sebagai berikut:

  1. PRASASTI PURA BATAN CELAGI BANJAR BELUSUNG DESA PEGUYANGAN KAJA.

Disana ada catatan yang berbunyi “Sam Sat Set Kahyangan” secara umum artinya Pemuka yang memelihara Parhyangan dan para pengemong diharapkan setia untuk memeliharanya. Dari Parhyangan ini diperkirakan timbul nama Peguyangan.

 

  1. PRASASTI PURA BATUR BANTAS DESA PEGUYANGAN KANGIN.

Yang terdiri dan 1 lembar perunggu yang berbahasa Bali Kuno yang telah pernah dibaca oleh Bapak Ketut Ginama seOrang yang ahli archeologi dimana lempengan prasasti tersebut hurufnya banyak yang rusak dan diperkirakan prasasti tersebut merupakan lembar yang ke empat dan diperkirakan dibuat pada abad 11. Disana hanya berisikan penghargaan dan pembebasan kepada pengemongnya dan peraturan-peraturan raja, dan tidak ditemui asal nama Peguyangan.

 

  1. PEGUYANGAN DALAM KERAJAAN BALI KUNO.

Penemuan berupa candi-candi kecil yang kita jumpai di Pura Desa Peguyangan yang disebut “Pacung Gumi” atau “Cakra Wiwa” yang dibuat oleh Kebo Iwa yang kira-kira berarti “Kekuatan daerah atau cakra yang artinya memutar (menguasai) daerah atau yang memegang tampuk pemerintahan di daerah ini. Candi Kecil dan prasasti yang ada berasal dan pemerintahan Sri Jayapangus ±1170 Masehi. Melihat dari hal tersebut dapatlah disimpulkan bahwa pada jaman itu sudah ada pemerintahan kecil di Peguyangan ini.

 

  1. PEGUYANGAN DALAM BABAD PEMECUTAN

Pada sekitar tahun 1690-an dimana pada waktu tersebut telah berkuasa Kyai Jambe Merik. Beliau membangun puri di Alang Badung (Suci sekarang). Pada waktu itu, kerajaan Tegeh Kori sudah berubah ke dinasti Jambe dengan kerajaannya disebut dengan Bandana Negara atau Kerajaan Badung. Pada awal berkuasanya Kyai Jambe Merik, kembali datang ke kerajaan Badung pasukan Goak dari Buleleng dibawah pimpinan Panji Sakti. Alasan dari penyerangan tersebut adalah untuk meminang putri dari warih Kyai Notor Wandira atau Kyai Bandana. Bila keinginan tersebut tidak diberikan maka kerajaan Badung akan dikuasai oleh Kerajaan Buleleng. Tentu saja permintaan tersebut ditolak oleh raja Badung. Maka terjadilah pertempuran hebat di daerah Blusung. Pertempuran yang dahsiat tersebut telah mengorbankan sangat banyak prajurit baik dari kerajaan Badung maupun dari kerajaan Buleleng. Darah yang mengalir dari tubuh prajurit yang tewas telah memenuhi daerah pertempuran bagaikan kubangan darah (pekubangan warak). Tidak ada yang menang maupun kalah dalam pertempuran tersebut. Pertempuran dahsiat tersebut diakhiri dengan pertukaran putri dari warih raja masing-masing kerajaan. Dari warih Raja Badung, yang diserahkan adalah putri dari Lanang Kemoning, setelah diperistri oleh Raja Buleleng menurunkan soroh Pedawa di Singaraja. Sedangkan dari warih Raja Buleleng, yang diserahkan adalah putri dari Ki Tamlang, setelah diperistri Raja Badung menurunkan soroh Tamlang di Titih. Setelah beberapa lama, kata “pekubangan” berubah menjadi peguyangan.

 

  1. MENURUT PENUTURAN ORANG-ORANG TUA YANG BELUM KAMI TEMUI SUMBER TERTULISNYA.

Mengatakan bahwa Peguyangan itu berasal dan kata Maguyang (makipu). Dimana waktu itu raja Panji Sakti menaiki kuda (asti) dari Denpasar/Badung menuju utara. Mengwi. Dimana setelah sampai di daerah perbatasan dengan kerajaan Mengwi, menemui daerah becek kuda beliau lalu makipu atau meguyang. Hingga daerah tersebut, daerah Pakipuan atau daerah Paguyangan lama kelamaan menjadi Peguyangan.

 

  1. PEGUYANGAN PADA JAMAN PENJAJAHAN BELANDA.

Mengenai pemerintahan raja kecil yang berkuasa di Peguyangan yang berada dibawah kerajaan Badung tidak banyak kami ketahui karena belum diketemukan data-data yang otentik/pasti. Pada tahun 1906 setelah Belanda menginjakkan kakinya di Badung, Raja Badung menyambut dengan senjata (perang). Dalam peperangan ini juga rakyat serta raja Peguyangan yang merupakan bagian kerajaan Badung turut mempertahankan hingga darah penghabisan. Setelahnya Badung kalah maka daerah ini juga menjadi jajahan Belanda.

Karena perkembangan jaman serta bertambahnya laju pertumbuhan penduduk perkotaan dan terbentuknya Kota Administratif Denpasar, sejak itulah Desa Peguyangan yang meliputi 2 desa adat dipecah berdasarkan surat keputusan Bupati Kepala Daerah tingkat II Badung Nomor: 167/Pem.15/166/1979, yang terbagi menjadi tiga wilayah yakni Kelurahan Peguyangan, Desa Peguyangan Kaja dan Desa Peguyangan Kangin. Kemudian Kelurahan Peguyangan ditempatkan menjadi Kelurahan difinitif dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah tingkat I Bali Nomor: 57/1982, tanggal 1 Juni 1982.

 

KEWILAYAHAN

Kelurahan Peguyangan berada diwilayah Desa Adat Peguyangan. Kelurahan Peguyangan mewilayahi 13 (tiga belas) Banjar diantaranya:

1.       Banjar Kepuh

2.       Banjar Tengah

3.       Banjar Benaya

4.       Banjar Pulugambang

5.       Banjar Tek-Tek

6.       Banjar Pemalukan

7.       Banjar Kertasari

8.       Banjar Dakdakan

9.       Banjar Hita Bhuana

10.     Banjar Tag-Tag Kelod

11.      Banjar Tag-Tag Tengah

12.     Banjar Tag-Tag Kaja

13.     Banjar Praja Sari,

 

dan 11 (sebelas) Lingkungan diantaranya:

1.       Lingkungan Kepuh

2.       Lingkungan Pulugambang

3.       Lingkungan Tek-Tek

4.       Lingkungan Pemalukan

5.       Lingkungan Kertasari

6.       Lingkungan Dakdakan

7.       Lingkungan Hita Bhuana

8.       Lingkungan Tag-Tag Kelod

9.       Lingkungan Tag-Tag Tengah

10.     Lingkungan Tag-Tag Kaja

11.      Lingkungan Praja Sari,

 

Daftar nama-nama Kepala Lingungan Kelurahan Peguyangan

1.       Anak Agung Made Dharma Puthera, Kepala Lingkungan Kepuh

2.       Anak Agung Putu Gede Wisnawa, Kepala Lingkungan Pulugambang

3.       I Ketut Yuliarta, Kepala Lingkungan Tek Tek

4.       I Nyoman Riawan, Kepala Lingkungan Pemalukan

5.       I Ketut Sunaka, Kepala Lingkungan Kertasari

6.       I Wayan Rustika Dharma, Kepala Lingkungan Dakdakan

7.       I Nyoman Sugiarta, Kepala Lingkungan Tag-tag Kaja

8.       I Wayan Uri Wijaya, Kepala Lingkunga Tag-tag Tengah

9.       Made Jayantara, Kepala Lingkungan Tag-tag Kelod

10.     Gede Agus Ariartha, Kepala Lingkungan Hita Bhuana

11.      I Nengah Sudiana, Kepala Lingkungan Prajasari

 

Daftar nama-nama Kelian Adat se-Kelurahan Peguyangan

1.       I Made Okta Prinata, Kelian Banjar Kepuh

2.       I Nyoman Sudana, Kelian Banjar Tengah

3.       I Wayan Rudita, S.E, Kelian Banjar Benaya

4.       I Gusti Agung Rai Parwata, S.Sos, Kelian Banjar Pulugambang

5.       I Wayan Artana, Kelian Banjar Tek tek

6.       I Ketut Arsana, Kelian Banjar Pemalukan

7.       I Gusti Ngurah Sardula, S.Sos, Kelian Banjar Kertasari

8.       I Wayan Suwirta, Kelian Banjar Dakdakan

9.       I Ketut Arsana, Kelian Banjar Tag Tag Kaja

10.     I Wayan Murka, Kelian Banjar Tag Tag Tengah

11.     I Nyoman Purwata, Kelian Banjar Tag Tag Kelod

12.     I Wayan Sucipta, Kelian Banjar Hita Bhuana

13.     I Nyoman Katon , Kelian Banjar Prajasari

 

GEOGRAFIS

  1. LETAK WILAYAH.

Kelurahan Peguyangan terletak di Kecamatan Denpasar Utara Kota Denpasar. Kelurahan Peguyangan terletak di dataran rendah dengan ketinggian 480 Meter diatas permukaan laut yang termasuk wilayah Bali Selatan berbatasan dengan:

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Peguyangan Kaja
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa dauh Puri Kaja
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Ubung Kaja dan Kelurahan Ubung
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Peguyangan Kangin dan Kelurahan Tonja
  1. LUAS WILAYAH

Luas Wilayah Kelurahan Peguyangan secara keseluruhan 644,00 Ha yang sebagaian besar merupakan daerah persawahan, tegalan, dan pemukiman penduduk. Kelurahan Peguyangan termasuk wilayah agraris dan persawahan masih cukup luas sekitar 341,90 Ha lahan sawah basah dan 297,45 Ha lahan tanah kering yang terletak diwilayah kerja kecamatan Denpasar Utara.

  1. IKLIM

Kelurahan Peguyangan memiliki iklim tropis yang dipengaruhi oleh musim dan terdapat musim kemarau dan musim hujan yang diselingi oleh musim pancaroba.

  1. KEPENDUDUKAN

Penduduk Kelurahan Peguyangan berjumlah 15.015 Orang yang terdiri dari jumlah laki-laki 7.546 Orang, jumlah perempuan 7.469 Orang. Jumlah kepala keluarga 3.619 KK berdasarkan isian potensi sumber daya manusia Kelurahan Peguyangan per Desember Tahun 2024 dan dapat dilihat berdasarkan rekapitulasi dari masing-masng lingkungan se-Kelurahan Peguyangan.

Tabel Data Jumlah Penduduk Per Banjar

NO.

BANJAR

L

P

JUMLAH PENDUDUK

JUMLAH KK

1.

Banjar Kepuh

340

317

657 Jiwa

157 KK

2

Banjar Tengah

303

320

623 Jiwa

136 KK

3

Banjar Benaya

365

358

723 Jiwa

176 KK

4

Banjar Pulugambang

419

389

808 Jiwa

178 KK

5

Banjar Tek-Tek

389

400

789 Jiwa

186 KK

6

Banjar Pemalukan

754

731

1.485 jiwa

348 KK

7

Banjar Kertasari

1.184

1.179

2.363 Jiwa

590 KK

8

Banjar Dakdakan

803

821

1.624 Jiwa

407 KK

9

Banjar Hita Bhuana

851

802

1.653 Jiwa

414KK

10

Banjar Tag Tag Kaja

595

615

1.210 Jiwa

296 KK

11

Banjar Tag Tag Tengah

348

350

698 Jiwa

175 KK

12

Banjar Tag Tag Kelod

311

290

601 Jiwa

141 KK

13

Banjar Praja Sari

884

897

1.781 Jiwa

415 KK

 

Jumlah

7.546

7.469

15.015 JIWA

3.619 KK

Sumber: Data Kependudukan Kelurahan Peguyangan Desember 2024

 

  1. PERTUMBUHAN, PERKEMBANGAN, PERSEBARAN DAN KEPADATAN PENDUDUK KELURAHAN PEGUYANGAN
  1. Laju Pertumbuhan Penduduk

Besarnya penduduk disuatu wilayah merupakan potensi yang perlu didayagunakan secara optimal, bila tidak akan menjadi beban pembangunan. Begitu pula dengan potensi penduduk yang ada di Kelurahan Peguyangan. Jumlah penduduk yang ada di Kelurahan Peguyangan berdasarkan registrasi penduduk Desember Tahun 2024 sebesar 15.015 Jiwa dengan perincian sebagai berikut: laki-laki 7.546 Orang, perempuan 7.469 Orang dan jumlah KK sebesar 3.619 KK. Sebagai salah satu Wilayah yang memiliki potensi dalam aktifitas perekonomian di Kecamatan Denpasar Utara, Kelurahan Peguyangan mau tidak mau akan menjadi daya tarik yang tinggi bagi masyarakat sekitarnya.

  1. Perkembangan Penduduk

Potensi penduduk yang ada di Kelurahan Peguyangan terus mengalami perkembangan yang cukup pesat dikarenakan adanya angka kelahiran dan perpindahan penduduk. Data perkembangan penduduk telah mengalami peningkatan, Jumlah penduduk yang ada di Kelurahan Peguyangan berdasarkan registrasi penduduk Desember Tahun 2024 sebesar 15.015 dimana per Desember 2023 hanya 14.869 terjadinya perkembangan sekitar 146 Jiwa dengan perincian sebagai berikut: laki-laki 66. Orang, perempuan 80 Orang dan jumlah KK sebesar 30 KK. Sebagai salah satu Wilayah yang memiliki potensi dalam aktifitas perekonomian di Kecamatan Denpasar Utara, Kelurahan Peguyangan perkembangan jumlah penduduk cukup padat.

  1. Persebaran Penduduk

Persebaran penduduk di Kelurahan Peguyangan tidak merata disebabkan karena kestrategisan tempat usaha sehingga banyak para pendatang yang mencoba berusaha dalam suatu wilayah tertentu.

  1. Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk di Kelurahan Peguyangan akan semakin tinggi di masa mendatang. Hal ini disebabkan oleh faktor migrasi yaitu masuk dan keluarnya penduduk tidak seimbang, dan juga didukung oleh perkembangan daerah perkotaan yang mana Kelurahan Peguyangan merupakan daerah transisi antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan sehingga menimbulkan kepadatan penduduk diantaranya laki-laki 7.546 Orang, perempuan 7.469 Orang  dan jumlah keseluruhan penduduk di Kelurahan Peguyangan berjumlah 15.015 jiwa, dari kepadatan penduduk tersebut ada beberapa faktor perubahan penduduk disebabkan danya kelahiran, kematian, penduduk pendatang dan penduduk yang pindah (data penduduk alamiah).

  1. Sex-Ratio

Perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan di Kelurahan Peguyangan per oktober Tahun 2018 adalah sebesar 51% yang artinya penduduk laki-laki sedikit lebih banyak dari pada penduduk Perempuan.

  1. Struktur Penduduk Menurut Umur

Distribusi penduduk per Desember Tahun 2018 menurut kelompok umur berdasarkan data dari masing-masing Kepala lingkungan se Kelurahan Peguyangan menunjukkan bahwa penduduk berusia muda (0-14 tahun) sebesar 1.759 Jiwa, dan usia 59 tahun keatas sebesar 1,428 Jiwa. Sehingga jumlah non produktif 564 Jiwa, Sedangkan kelompok umur produktif 15-58 adalah 10.102 Jiwa.

PENDIDIKAN

Dalam rangka peningkatan sumber daya manusia dan kebijakan di bidang pendidikan diharapkan penduduk/masyarakat Bali pada umumnya dan masyarakat Kelurahan Peguyangan pada khususnya mempunyai tingkat pendidikan minimal 9 Tahun berarti sudah tamat/berijasah SLTP. Dan berikut adalah tingkatan pendidikan di Kelurahan Peguyangan :

NO.

PENDIDIKAN

JUMLAH

1.

Usia 3 – 6 tahun yang belum masuk TK

331 Orang

2.

Usia 3 – 6 tahun yang sedang TK/Play Group

26 Orang

3.

Usia 7 – 18 Tahun yang sedang Sekolah

1.225 Orang

4.

Usia 18 – 65 tahun yang tidak pernah sekolah

2 Orang

5.

Usia 18 – 56 tahun pernah SD tetapi tidak tamat

2 Orang

6.

SD

2.099 Orang

7.

SMP

1.564 Orang

8.

SMA

5.914 Orang

9.

Diploma

707 Orang

10.

Sarjana

1.818 Orang

11.

S2

158 Orang

12.

S3

7 Orang 

 

Total

13.853 Orang 

Sumber: Daftar isian potensi Kelurahan Peguyangan Desember 2018

 

KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA DAN RELIGIOUS MASYARAKAT PEGUYANGAN

Kehidupan sosial masyarakat Kelurahan Peguyangan seperti kebanyakan masyarakat lain di Bali memiliki kehidupan sosial yang hampir mirip yaitu mewarisi tradisi secara turun temurun dan berusaha memodifikasinya untuk menyesuaikan dengan perkembangan mengikuti perubahan jaman. Setiap kehidupan manusia atau masyarakat senantiasa mengalami perubahan, dalam perubahan itu dapat berupa kemajuan (progress) atau kemunduran (regress).

Perubahan sosial masyarakat menyangkut dua dimensi, yaitu: (1) dimensi struktural dan (2) dimensi kultural. Perubahan dimensi struktural menyangkut hubungan antar individu dan pola hubungan termasuk didalamnya mengenai suatu status dan peranan, kekuasaan otoritas, hubungan antar status, integrasi dan sebagainya. Perubahan dimensi kultural menyangkut nilai-nilai dan norma-norma sosial. Perubahan sosial dapat dilihat dalam kurun waktu tertentu, ada yang berlangsung cepat dan ada yang berlangsung lambat (Ibrahim, 2003:45).

Perubahan sosial merupakan hal yang dianggap normal, yakni menyangkut perubahan fungsi kebudayaan dan prilaku manusia dalam masyarakat dengan berbagai modifikasinya, baik dalam waktu cepat atau lambat yang selalu berhubungan antara satu unsur dengan unsur kehidupan dalam masyarakat.

Menurut Ibrahim (2003) pada dasarnya ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial yaitu:

1.     Faktor Internal. Faktor ini mencakup faktor internal manifest (disengaja), dan faktor internal laten (tidak disengaja dan merupakan potensi yang selalu ada dalam setiap masyarakat). Faktor internal manifest yang dapat menyebabkan perubahan sosial yaitu: (a) Penemuan baru. Penemuan baru bisa berupa inovasi dan invensi. Inovasi merupakan penemuan baru yang diciptakan berdasarkan pengetahuan-pengetahuan sebelumanya yang sudah ada. Inovasi dalam bidang sosial dapat berupa konsep, teori. Hukum, metode dan sebagainya. Invensi merupakan penemuan barang yang sebenarnya sebelumnya telah ada, tetapi belum dimanfaatkan oleh manusia didalam kehidupannya seperti penggunaan lampu listrik karena belum terpasang jaringan listriknya. (b) Gerakan sosial, adalah suatu usaha kolektif yang terus untuk meningkatkan suatu perbaikan dalam suatu masyarakat atau kelompok dimana mereka berada.

2.     Faktor Eksternal. Faktor ini merupakan kekuatan-kekuatan diluar masyarakat yang dapat mendorong terjadinya perubahan sosial. Faktor eksternal adalah: (1) perubahan lingkungan alam, terjadinya perubahan lingkungan alam akan menyebabkan terjadinya perubahan sosial. (2) penjajahan atau bentuk kelompok dari luar maryarakat, penjajahan bukan berarti penjajahan fisik tetapi dalam bentuk modernisasi informasi dan kekuatan ekonomi. (3) kekuatan asing, dapat berupa pengaruh kebudayaan asing yang dapat mempengaruhi perubahan sosial masyarakat.

Masyarakat Kelurahan Peguyangan pada awalnya merupakan perpaduan antara masyarakat agraris dan masyarakat pekerja swasta maupun pegawai negeri, dengan memegang tradisi sosial budaya yang sangat kental, teguh dan gugon tuwon. Karena perubahan yang begitu cepat ditambah lagi kesadaran para orang tua untuk menyekolahkan anaknya sampai keperguruan tinggi, maka perubahan sosial tidak dapat dihindari lagi. Hal ini juga sangat berpengaruh dengan perkembangan seni budaya yang ada di Kelurahan Peguyangan. Ini dibuktikan dengan berbagai macam kesenian yang ada baik itu gambelan maupun tarian yang diperuntukkan dalam upacara keagamaan.

Kehidupan Religius masyarakat Kelurahan Peguyangan mayoritas beragama hindu, sebagai penunjang kegiatan keagamaan. Kelurahan Peguyangan memiliki banyak pura baik pura kayangan tiga, pura kawitan, Pura paibon, pura ibu dan pura yang lainnya.

KEHIDUPAN KESENIAN MASYARAKAT KELURAHAN PEGUYANGAN

Kehidupan berkesenian di Desa Adat Peguyangan pada umumnya dan Kelurahan Peguyangan pada khususnya geliat berkesenian sanagtlah kental dan berkembang. Berbagai kesenian juga berkembang di Desa Peguyangan Khususnya Kelurahan Peguyangan yaitu seni tari legong, tari topeng, tari baris, tari rejang, seni tari barong, sendratari dan wayang wong/parwa. Adanya sanggar-sanggar seni di banjar-banjar serta adanya sesungsungan (benda-benda sakral seperti Barong, Topeng), dibeberapa banjar di wilayah Kelurahan Peguyangan, dan sudah mempunyai seperangkat gambelan bahkan ada beberapa Banjar yang mempunyai perangkat gambelan lebih dari satu barung (satuan penyebutan perangkat gambelan di Bali). Jenis barungan gambelan seperti: Gong kebyar, Angklung, Bleganjur, Gender wayang, Batel, Semarapagulingan.

Jenis kesenian pesantian juga sangat berkembang pesat, kesenian seni musik tradisional dan modern juga sangat berkembang.  Membuat geliat berkesenian sangat terasa di wilayah ini. Tari yang terus berkembang dan selalu pentas dalam setiap odalan hanyalah tari wali seperti Baris dan Rejang, sedangkan wayang wong/parwa, barong, rangda dan topeng merupakan kesenian sakral yang hanya dipentaskan pada hari-hari tertentu saja sebagai tari Wali dan Bebali.

Jenis-jenis Kesenian yang ada di Kelurahan Peguyangan

NO.

JENIS KESENIAN

BANYAKNYA

1.

Seni Tari

10

2.

Seni Gambelan

13

3.

Seni Suara/Kidung/Pesantian

13

4.

Seni ukir, Lukis

5

5.

Seni pedalangan

1

6.

Seni Kerajinan

10

Sumber: Daftar isian potensi Kelurahan Peguyangan Desember2018