Sosialisai Sampah
BENAYA, Munculnya berbagai permasalahan lingkungan dewasa ini di lapisan masyarakat perkotaan seperti Kota Denpasar, tidak terlepas dari semakin memudarnya semangat gotong royong dan kepedulian akan pentingnya kebersihan lingkungan. Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan potensi wilayah sejatinya dapat dilakukan dari aparat yang berada di Desa/Lurah. Terlebih lagi dalam mengelola kebersihan lingkungan peranan masyarakat sangat strategis.
Dibalik upaya mempercantik wajah Kota, sampah ternyata masih menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat Kota Denpasar khususnya di Kelurahan Peguyangan. Menangani permasalahan sampah berbagai upaya telah dilakukan Pemkot Denpasar, mulai dari menerbitkan peraturan menyangkut kebersihan hingga melakukan kerjasama dengan berbagai pihak. Namun dibutuhkan peran serta dan kerjasama dari seluruh komponen masyarakat khususnya mengikuti ketentuan dan tertib dalam pengelolaan sampah. Demikian yang disampaikan dalam sosialisasi tentang kebersihan di Banjar Benaya Kelurahan Peguyangan. Pada kesempatan itu juga dari DKP yang dihadiri oleh Adi Wiguna menyampaikan kondisi dari persampahan Kota Denpasar dan kendala-kendala DKP dalam penanganan sampah khususnya terbatasnya armada yang dimiliki. Dalam kesempatan itu pula dari 40 armada yang dimiliki setengah lebih rusak dan masih dalam perbaikan.
Lurah peguyangan melaksanakan sosialisasi ke Banjar Benaya untuk menyampaikan hal tersebut di pesangkepan Banjar pada Wraspati Tumpek Kuningan tanggal 9 Pebruari 2012. Hal ini mengingat Jalan Astasura merupakan jalur terbuka akses menuju kota, sehingga menjadi perhatian kita ketika masih terdapat sampah yang menumpuk dan berserakan di pinggir jalan.
Sangat disadari bahwa masyarakat Kelurahan Peguyangan tingkat kesadarannya untuk tertib dalam kebersihan memang masih relatif kurang, walaupun sudah dihimbau sampah dikeluarkan mulai pukul 17.00 s/d 19.00, belum ditaati secara meksimal. Mengingat beragam kepentingan dari masyarakat terutama di kalangan para pedagang, yang kadangkala membuang sampah tidak taat pada jadwal, sehingga jalan dan saluran got sering menjadi obyek pembuangan sampah .
Sampah tersebut kemudian menjadi pameran apalagi pengangkutan dari DKP di saat hari raya seperti sekarang ini kewalahan sehingga butuh beberapa hari sampah baru diangkut. Yusswara juga menyampaikan pada kesempatan tersebut tidak melarang warga untuk mengeluarkan sampah asalkan mengikuti jadwal dan dalam keadaan terbungkus, mengingat jalur ini masih dilayani oleh DKP.namun ketika warga tidak mampu mengelola sampahnya sendiri sesuai ketentuan tersebut, pada saat itu juga ditawarkan solusi untuk ikut bergabung dengan swakelola sampah yang ada di Kelurahan Peguyangan, yang pada saat ini sudah terdapat 3 (tiga) kelompk swakeloa yaitu Swakelola Prajsari yang melayani Jalan Bedahulu, Depo Tagtag yang melayani Lingk/Br. Tagtag Kaja, Tagtag Tengah dan Tagtag Klod, Depo Garuda yang melayani Br. Dakdakan, Kertasari, Hita Bhuawana dan sebagian Lingk./Br. Pemalukan.
Pada kesempatan itu hadir pula Ni Luh Ria Wati selaku pioneer swakelola sampah di Kelurahan Peguyangan, yang sudah bergerak secara mandiri membangun kesadaran masyarakat untuk swakelola sampah.
Dijelaskan pula oleh A.A Ngr. Gde Widiada selaku tokoh masyarakat di Br. Benaya bahwa masalah sampah adalah tanggung jawab bersama, jika sampah tidak tertangani dengan baik tentu bisa memunculkan berbagai macam penyakit. Begitu pula sebaliknya jika sampah dikelola dengan baik tentu bisa mendatangkan keuntungan salah satunya adalah kesehatan. Dalam penanganan sampah yang terpenting adalah kesadaran masyarakat, tanpa itu mustahil bisa mewujudkan Denpasar yang bersih, sehat dan hijau. “Saya bersyukur bahwa di Kelurahan Peguyangan ada pioneer seperti Depo Garuda yang sangat peduli dengan masalah sampah†ujarnya. Turah Gde juga menyampaikan kesanggupan beliau untuk menghibahkan mesin bantuan dari Alfamart kepada kelompok swakelola sampah yang berniat untuk membangun depo dan memanfaatkan sebagian lahan yang beliau miliki