PAWAI OGOH-OGOH
Prosesi Ogoh-Ogoh serangkaian dengan upacara Tawur Kesanga adalah sebuah ekspresi kreatif masyarakat Hindu di Bali, khususnya di Kota Denpasar, di dalam memaknai perayaan pergantian Tahun Caka. Masyarakat menciptakan Ogoh-Ogoh Bhutakala seperti : Kala Bang, Kala Ijo, Kala Dengen, Kala Lampah, Kala Ireng, dan banyak lagi bentuk-bentuk lainnya, sebagai perlambang sifat-sifat negatif yang harus dilebur agar tidak menggangu kehidupan manusia. Ogoh-Ogoh Bhutakala yang diciptakan kemudian dihaturkan sesaji “natab caru pabiakalan†sebuah ritual yang bermakna “nyomiaâ€, mengembalikan sifat-sifat Bhutakala ke asalnya. Ritual tersebut dilanjutkan dengan prosesi Ogoh-Ogoh, seluruh lapisan masyarakat bersama-sama mengusung Ogoh-Ogoh mengelilingi jalan-jalan desa dan mengitari catus pata sebagai simbol siklus sakral perputaran waktu menuju ke pergantian tahun Caka yang baru. Setelah ritual dan prosesi Ngerupuk tersebut Ogoh-Ogoh Bhutakala itupun “di-prelinaâ€, mengembalikan keasalnya dengan dilebur atau dibakar.
Layaknya prosesi umunnya di Bali di Kelurahan Peguyangan pawai berlangsung semarak dan meriah aman dan lancar, seluruh banjar membuat ogoh-ogoh dan mematuhi kesepakatan yang telah dibuat di kantor Lurah Peguyangan. Prosesi dipusatkan diperempatan Puri Peguyangan yang diikuti oleh enam STT Banjar Se-Kelurahan Peguyangan.